PAK NAS..
One day in Lombok island
Namanya pak nas, 6 tahun lalu pertama dan terakhir saya jumpai beliau. Entah siapa nama panjangnya saya tak tau.
Yang saya tahu bahwa dialah orang luar biasa yang akan saya sebutkan pertama kali jika ada orang menanyakan ku tentang siapakah sosok luar biasa yang pernah ku jumpai sepanjang perantauan.

Mungkin tidak berlebihan jika beliau kusebut pahlawanku saat itu, disebuah kegiatan kemasyarakatan membantu pembangunan mesjid untuk sebuah pesantren di desa Lilir kecamatan
Gunung Sari kebupaten Lombok Barat kisaran penghujung tahun 2012 lalu, Tinggallah saya bersama beberapa rekan di desa ini. Pulau seribu mesjid..

Pak NAS yang kesehariannya seorang penggali sumur yang hidup bersama istri dengan dua orang anak gadis disebuah gubuk bambu dekat kebun rambutan itu, Tentu dengan segala kesederhanaan
Yang mereka punya dengan segala kebesaran hatinya bersedia menampung kami. Saya ikut merasakan atmosfer kebahagiaan di keluarga kecil itu sesaat menikmati kopi pagi sembari berdiskusi ringan dengan bahasa Sasak yang
sayapun tak paham maknanya. Namun ketawa lepas yang mereka perlihatkan tak mampu menutupi kebahagiaan yang mereka rasakan. Seakan tak mau tau dengan ekonomi negara ini yang kian
memburuk, atau nilai rupiah yang anjlok, atau bahkan utang luar negeri kita yang semakin menggunung. Namun bahagia selalu menyertai selama bersama mereka.

Sebagai kepala keluarga, pak nas berusaha menafkahi keluarganya dengan jerih payahnya sendiri, selama itu halal iya lakoni kendati harus bertaruh nyawa dengan menggali sumur hingga sekian meter dalamnya. Pelajaran tentang tanggung jawab yang luar biasa belum tentu saya dapatkan di tempat lain.

Beliau adalah sosok pekerja keras, tutur katanya yang santun khas masyarakat Lombok pada umumnya membuatnya sukar luput dari ingatan saya. Wajahnya mungkin sedikit lupa, mengingat ruang ingatanku yang sudah penuh dengan tugas-tugas kuliahku hari ini. Namun sekali lagi kebaikannya akan abadi.

Satu hal yang saya tau dari pak nas, bahwa untuk menjadi berjasa pada orang kita hanya butuh jadi orang baik, bukan orang kaya yang serba cukup.

Suatu pagi, sebagaimana pagi-pagi sebelumnya, kami berlingkar menikmati hidangan pagi bak keluarga sendiri, sebelum beranjak ke kegiatan masing-masing. Aku mengamati hidangan yang
disajikan Bu Anet "istri pak Nas yang juga sosok minta ampun baiknya itu" benar-benar empat sehat lima sempurna untuk kalangan akar rumput sekelas kami saat itu. Sempat terpikirkan
darimana mereka dapatkan semua itu? Apakah hanya untuk menghormati kami "yang sebenarnya tak layak di hormati" sebagai tamu lalu mereka mencari pinjaman?.. walaupun saya tau ketika itu anak gadisnya yang sulung sudah bekerja di sebuah mall bernama "CHAKRA" Yang terletak tak begitu jauh dari rumahnya.

 Tak ketinggalan sebuah mangkuk berisi kacang tanah yang sudah di goreng Bu Anet ikut meramaikan jajaran masakan di lantai tanah rumah bambu milik pak Nas. Aku sendiri baru sadar kacang tanah pun bisa menjadi lauk. Namun bersama pak Nas, begitulah adanya.

Saya tak berharap pak Nas membaca tulisan ini, karena untuk standar pak nas yang lahir dari rahim alam, tentu tak akan  paham dengan kemajuan teknologi kendati memiliki sebuah Smartphone
apalagi memiliki akun Facebook dengan nama ala anak alay jaman sekarang. Namun untuk mengenang kebaikan beliau sehingga kuabadikan dalam bentuk tulisan yang carut marut ini.

Terimakasih pak Nas. Semoga waktu berkenan mempertemukan kita kembali, sekedar melepas kangen dan kembali Berbagai cerita.

Ponorogo Jawa timur 2 April 2019.
Candra Saputra...



Komentar